Tampilkan postingan dengan label BRUNAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRUNAI. Tampilkan semua postingan

09 Juni, 2009

RAJA TENGAH MENINGGAL DI SERAWAK

RAJA TENGAH MENINGGAL DI SERAWAK

Setelah cukup lama pengembaraannya di matan/sukadana dan di sambas, raja tengah ingin hendak kembali ke serawak, maka bermufakatlah ia suami isteri. Kepulangan raja tengah ke serawak di ceritakan oleh sultan muhammad syafiuddin ii sebagai berikut :

“Hatta pada suatu hari mufakatlah ia kedua laki isteri hendak berlayar ke Serawak kembali, lalu bermohon kepada ratu Anom Kesuma Yuda dua laki isteri sedang menyerahkan paduka Anakanda Raden Sulaiman laki isteri kepada ratu Anom Kesuma Yuda laki isteri : minta disuruh perintah diperbuat seperti saudara sendiri.
Kemudian Raja Tengah pun berlayar dari Sambas pergi ke Serawak. Setelah sampai ke Batu Buaya di kuala Serawak Raja Tengah pun turun ke sampan minta dikayuhkan kepada seorang sakai gila bertiga dengan budak membawa keris. Setelah datang ke darat ia pun bertengger di atas batu hendak buang air, maka sakai itu menikamnya dengan tempuling kena rusuk baginda. Maka baginda pun terkejut, lalu mengambil keris pada tangan budak lalu dipancungnya batang tempuling itu Sakai dan budak yang membawa keris itu di pancungnya juga. Sudah itu lalu baginda pun pulang ke perahu. Setelah petinggi dan Temenggung mendengar baginda telah di kuala itu, maka keduanya hilir menyambut baginda lalu membawanya pulang ke istana. Setelah sampai di istana, maka baginda pun mangkatlah”.

Mengenai di mana kuburan Raja Tengah ini,pernah dimuat pada harian edisi khas “The Borneo Post,” Utusan Borneo yang terbit di Kuching hari Jum’at tanggal 12 maret 1993 memberitakan:

MAKAM SULTAN SARAWAK DITEMUI

“ Kuching, sebuah makam berusia 352 tahun yang dikatakan makam Sultan pertama dan terakhir Sarawak, Sultan Tengah ibnu Sultan Muhammad Hasan di temui di Santubong, kira-kira 20 Km dari pusat Bandar Raya Kuching.Makam berkenaan terletak di tepi jalan di persimpangan jalan ke Pantai Sentubong dan Pantai Damai. Museum Serawak mendapat tahu mengenai wujud dan makam ini dari pada Pengetua Pusat Sejarah Brunei, Pehin Orang Kaya Amar Diraja Datuk Seri Utama Dr. Haji Mohd. Jamil Al Sufri, di tahun 1991, tetapi tidak pernah di hebohkan pada pihak media sebelum ini. Setelah di beritahu penemuan makam ini semalam lebih sepuluh orang pemberita dan juru gambar telah pergi ke Santubong untuk melihat makam ini.”

Didalam buku tentang Sultan Tengah tulisan Dr. Haji Modh. Jamil Al Sufri, maupun buku “Silsilah Sambas” tulisan Sultan Muhammad Syafiuddin II tidak di sebut di mana lokasi ibu Kota Serawak di masa Raja Tengah. Jika ibu kota di Kuching, kenapa jenazah Raja Tengah di makamkan di Sentubong.

Adalah suatu kehormatan tertinggi bahwa pemakaman seorang Raja haruslah pada tempat tidak jauh dari istananya, apa lagi jarak antara Sentubong dan Kuching melalui Sungai Serawak mudah dicapai. Melihat kenyataan ini kita cenderung berkesimpulan bahwa ibu kota Kerajaan Serawak dewasa ini adalah Santubong, di muara Sungai Serawak.
Di Santubong banyak terdapat peninggalan tahi besi. Menurut Tom Harrison dan S.J.O. Conor, disana pada tahun 900 sampai dengan 1350 terdapat sebuah industi logam yang sangat besar. Selain itu pada masa tersebut di Santubong juga diketemukan emas. Sebagai mana Brunei di sebut Puni oleh orang Cina dan didalam Buku “Negarakertagama” di sebut Bruneng, demikian pula Shan Hu Chung ( Santubong ) dalam bahasa Cina sama dengan Sawaku dalam Buku “Negarakertagama”, yang lama-kelamaan setelah mengalami evolusi sebutan menjadi Serawak/Sarawak.

Santubong dengan gunungnya mempunyai arti yang sangat penting, panduan bagi kapal besar yang sedang berlayar, sumber air tawar dengan pantainya yang landai.
Di zaman Hindu/Budha Semasa Serawak berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, pastilah tempat itu merupakan pusat pemukiman ( ibukota ), karena banyak di temukan peninggalan bersejarah, seperti: situs batu gambar di Jaung, peninggalan Budha berupa Abu Budha, Sarcopagus di Bongkisan, Patung Budha di dukit Maras dan pada beberapa tempat terdapat banyak pecahan keramik Cina.

Kematian Raja Tengah yang tidak wajar, mengundang banyak pertanyaan, kemudian di tambah lagi mengapa Raden Badruddin putera kedua Raja Tengah tidak dinobatkan menjadi Raja sebagai penerus kerajaan Serawak. Bersama ibundanya dan saudara saudaranya Raden Baharuddin kembali ke Sukadana, Sebagai yang di tuturkan oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II sebagai berikut:

“Setelah selesailah daripada memelihara matinya Raja Tengah, maka Ratu Surya dengan empat orang puteranya kembali ke negeri Sukadana, dan beberapa lamanya sudah datang di Sukadana, maka Raden Badaruddin di gelar oleh Sultan Sukadana Pangeran Mangku Negara, sudah lama-lamajadi panembahan pula.”

Read more...

04 April, 2009

PERJALANAN RAJA TENGAH

RAJA TENGAH (RAJA SARAWAK )KE JOHOR DAN MATAN SUKADANA

RAJA TENGAH DI JOHOR


Sewaktu tiba di Johor,rombongan Raja Tengah disambut secara adat kebesaran.kebetulan pada waktu itu Sultan Johor sedang mengadakan pesta diraja,mengawinkan salah seorang puteranya.Dalam luapan kegembiraan pada pesta tersebut telah terjadi suatu musibah.
Raja Tengah diajak menari oleh beberapa pembesar Johor,tetapi selalu ditampiknya,karena tidak sesuai dengan kepribadianya,sebagai seorang muslim yang taat.
ajakan tersebut meningkat kepada paksaan yang menurut Raja Tengah suatu tindakan mempermainkan dan mempermalukanya didepan majlis.Seorang pembesar lainya telah memintal sapu tangannya dan secara tidak sengaja mengenai muka Raja Tengah….Raja Tengah merasa dihina dan menampar muka pembesar tersebut.
Majelis menjadi gempar,pengawal dan prajurit Johor telah siap siaga untuk membela para pembesarnya,melihat keadaan yang memanas,prajurit Sakai pun siap siaga untuk mengadakan perlawanan apabila mereka diserang.Sultan sangat murka atas kejadian tersebut,namun sang Ratu berusaha menenangkan dan menengahi,akhirnya rombongan Raja Tengah kembali kekapal,mereka segera menaikan sauh kapal dan berlayar kembali ke Serawak.
Dalam cerita lain mengatakan kegaduhan bermula karena Raja Tengah menolak untuk dijodohkan dengan salah seorang Puteri Ratu Bonda.

RAJA TENGAH DI MATAN SUKADANA

Dalam pelayaranya pulang ke Serawak armada Raja Tengah dilanda angin badai,guntur petir sambung menyambung,cuaca gelap gulita,dan tiang layar banyak yang patah.setelah dua hari dua malam diterpa badai tersebut,akhirnya kapal Raja Tengah terdampar dipantai Sukadana,Matan…

Sebenarnya Raja tengah bermaksud singgah sebentar saja di Sukadana,sekedar untuk memperbaiki kapalnya,mengisi air minum dan menambah perbekalan,tetapi setelah mendapat sambutan dan perlakuan secara kekeluargaan dari Panembahan Giri Mustika,akhirnya ia setuju untuk bermukim diSukadana lebih lama lagi.

Saat itu yang menjadi raja diSukadana adalah Panembahan Giri Mustika,ia sedang kedatangan tamu utusan Raja Mekkah yang bernama Syech Syamsuddin.Utusan tersebut menyampaikan sebuah Kitab Suci Al Qur’an,sebentuk Cincin Bermata Jakut Merah dan surat pengangkatan/pemberian gelar Panembahan Giri Mustika,dengan nama dan gelar (Islami) yaitu “Sultan Muhammad Syafi’uddin”.Raja Tengah pun belajar memperdalam pengetahuan ilmu agama islam kepada Syech Syamsuddin,sebelumnya Raja Tengah memang sudah memeluk agama Islam…

Catatan :
Sultan Muhammad Syafiuddin(Matan) adalah Paman dari Raden Sulaiman Sultan Sambas yang pertama

Read more...

22 Februari, 2009

SEJARAH BRUNAI bag 3

PERJUANGAN BRUNAI KEARAH KEMERDEKAAN

Pada awal tahun 1600,Indonesia diduduki Belanda,Indo China diduduki oleh Prancis dan Malaya diduduki Inggris.Penguasa Ingris masuk di Serawak ,ketika
Tahun 1839 James Brooke datang di Brunai,Raja Muda Hasyim menyerahkan kekuasan Brunai dan Serawak kepada James Brooke (Inggris),sejak 1841,James Brooke menjadi Raja Sserawak sebagai The White Royal.Selama 100 tahun keluarga James Brooke berkuasa di Serawak..Tahun 1890 Charles Brooke merampas daerah Limbang dari Brunai yang memisahkan Brunai menjadi dua bagian.


Tahun 1888 Brunai meminta bantuan perlindungan Inggris untuk memadamkan pemberontakan,sejak itu Brunai menjadi daerah Protektorat Inggris.

Tahun 1941 Jepang menduduki Brunai.Pendudukan Jepang telah menimbulkan semangat nasionalisme Brunai yang melahirkan kesatuan Malay Brunai.Setelah perang dunia ke 2,Brunai teteap berada dibawah protektorat Inggris.namun Sultan Omar Ali Syafi’uddin III yang bertahta sejak 6 Juni 1950,berupaya membangun Negeri Brunai kearah kemerdekaan,Brunai talah mulai memproduksi minyak bumi dan gas yang kaya itu…Ketika Tengku Abdurrahman membentuk Federasi Malaysia tahun 1963,Brunai tidak masuk dalam persekutuan itu.

Setelah pemilihan umum 1962,usaha kearah kemerdekaan Brunai dikacau oleh pemberontakan Azahari dengan “Tentara Nasional Kalimantan Utara”,namun dapat dihancurkan.Tanggal 1 Agustus 1968 Sultan Omar Ali Syafi’uddin III digantikan oleh Pangeran Muda Mahkota Hasanul Bolkiah sebagai sultan Diraja Brunai yang ke 29.

Malalui perundingan yang panjang dengan Inggris ,akhirnya tangal 1 Januari 1984 ,Brunai menjai Negara merdeka penuh,Pemasyhuran Negara Brunai Darussalam tanggal 23 Pebuari tahun 1984,dan diperingati sebagai hari kebangsaan Brunei Darussalam.Sepanjang sejarah nya,Brunai tidak pernak dijajah Negara asing,karena sebagai daerah perlindungan (Protektorat Inggris) atas permintaan Brunai.

Negara Brunai Darussalam wilayahnya hanya seluas 5.765 km².Penduduknya sekitar 300.000 jiwa (tahun 2001)mendiami empat daerah atau district yaitu district Belait,Tutong,Brunai dan Muara serta Temburung.Ibu kota Brunei dahulu bernama Bandar Brunei ,sejak Oktober 1970 diubah menjadi Bandar Seri Bagawan untuk menghormati Sultan Haji Seri Begawan Sultan Sir Muda Omar Ali Syafi’uddin III.

Negara Brunei Drussalam kini adalah Negara Melayu mayoritas Islam yang menjalani kebebesan pengamalan agama lain,Negara minyak kaya dengan jumlah penduduk sangat sedikit serta kekuasaan Sultan yang bijaksana,telah menjadikan Negara Brunai kaya dan Makmur.

Kutipan buku “Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Sambas”
Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas tahun 2001.

Read more...

19 Februari, 2009

SEJARAH BRUNAI bag 2.

KUNJUNGAN ANTONIO PIGAFETTA KE BRUNAI

Setelah Portugis menduduki Malaka tahun 1511,Portugis belum mendatangi Brunai,tanggal 17 Juli 1521,salah seorang anggota pengeliling dunia,Magelhan,yaitu Antonio Pigafetta mengunjungi Brunai.
Badaimana gambaran kebesaran kerajaan Brunai pada masa Sultan Bolkiah (1485-1524),diceritakan Antonio Pigafetta sebagai berikut : “Hari berikutnya raja pulau itu telah mengirimkan sebuah perahu ke kapal kami ,parahu itu sangat indah,bagian haluan dan buritan berlukiskan emas.dihaluanya berkibar bendera putih biru yang ujung tiangnya berhias bulu merak.didalam perahu tersebut ada sejumlah orang yang sedang memainkan seruling dan gendang,dua buah Almadias perahu nelayan mengikuti perahu tersebut dan sebuah perahu jenis Pusta.

Delapan orang pembesar dari pulau tersebut telah naik kekapal duduk diatas permadani diburitan kapal menghadiahkan sebuah cerana yang penuh berisi surih dan pinang,limau,bunga melati yang ditutupi kain sutera kuning,dia juga memberi kami dua kurung ayam,2 ekor kambing,3 tempayan arak yang disuling dari beras,dan beberapa tebu. .
Ketika kami datang ke kota,kami harus menunggu sekitar 12 jam diperahu,sehingga datang 2 ekor gajah yang dihiasi dengan kain sutera,dan 12 orang yang masing masing membawa sebuah wadah porselin yangditutupi kain sutera,untuk menyambut hadiah hadiah kami...kami naik keatas gajah,sementara 12 orang tadi berjalan kaki dihadapan membawa hadiah hadiah.kami pergi kerumah Syahbandar,disana malamnya kami tidur diatas tilam kapuk berseprai kain sutera,berselimutkan sejenis kain Cambay….

Keesokan harinya kami tinggal dirumah itu hingga tengah hari tanpa kerja apa apa,dan kemudian kami pergi ke istana raja…diujung Balairung,terdapat sebuah Balairung kecil agak tinggi,namun tidak begitu besar tempat itu dihiasi derngan kain sutera dan 2 buah jendela bertabir kain Brokat,utuk menerangi ruangan itu.

Disitu terdapat 300 pengawal raja dalam keadaan siap siaga dengan pedang terhunus.pada ujung balairung kedua ini,terdapat sebuah ruangan besar yang terbuka ditutupi dengan tirai brokat,apabila tirai ini dibuka kami melihat Raja tersenyum disinggasananya bersama salah seorang Puteranya,sambil mengunyah sirih.dibelakang baginda kelihatan perempuan perempuan belaka. .


Kami telah menerangkan kepada raja itu,bahwa kami adalah rakyat raja Spanyol,yang ingin mengadakan hubungan dagang,raja itu suka cita menerima raja Spanyol menjadi sahabatnya dan kami dibolehkan mengambil kayu dan air dan menjalankan perdagangan menurut kesukaan kami..kemudian kami pun menyerahkan hadiah hadiah.setiap kali barang barang yang dipersembahkan ,raja menganggukkan kepalanya sedikit.
Kami semua telah diberi hadiah ,terdiri dari kain sutera ,yang mereka letakkan sebentar diatas bahu kami.kemudian kepada kami disuguhkan Cengkih dan Kayu manis,dan setelah itu tirai diturunkan dan jandela ditutup.semua orang yang berada diistana memakai pakaian sutera yang bersongket benang emas,memakai mutiara dan permata permata yang berharga dan jarinya penuh dengan cincin. .


Kami menunggang gajah lagi dan kembali kerumah Syahbandar.7 orang laki laki mengikuti kami untuk membawa hadiah hadiah yang telah diberikan kepada kami...apabila kami telah sampai dirumah diberikanya hadiah tersebut kapada kami masing masing,dengan meletakkan pada bahu kami seperti yang telah dilakukan diistana raja.”(kunjungan Pigetta ke Brunai telah tercata diprasasti makam Raja Raja Brunai di Kota Batu,Bandar Sri Begawan). .

Tahun 1526 Portugis mengikat perjanjian dagang dengan Brunai..Tahun 1578 Dr Fransisco De la Sande,gubernur jenderal Spanyol di Manila marah karena Brunai mengikat hubungan dagang dengan Portugis.ia menyerang kerajaan Brunai,tetapi tidak berhasil menguasai.akibat serangan Spanyol itu kekuasaan Brunai terhadap Zulu(Philipina)dan lainya diBorneo semakin lemah….

Read more...

18 Februari, 2009

SEJARAH BRUNAI bag I

KERAJAAN BRUNAI

Pada zaman dahulu,belum ada batas yang jelas antara kerajaan Brunai,Serawak dan Sambas,batas wilayah baru ditetapkan ketika Belanda menguasai Indonesia dan Inggris menguasai Serawak danBrunai tahun 1800.
Pada masa puncak kejayaan Brunai mempunyai warisan sejarah tua yng tumbuh bersamaan dengan kerajaan tua Melayu seperti kerajaan Perlak, kerajaan Pasai,kerajaan Malaka, kerajaan Johor dan kerajaan Demak.sampai pertengahan adab ke 15,Brunai telah menguasai atau berpengaruh terhadap kerajaan kerajaan dipulau Borneo (Kalimantan ) dan menguasai kerajaan Zulu di Philipina..

Dalam catatan sejarah Dinasti Tang (618-907) Maupun Dinasti Ming (1368-1644) Brunai disebut dengan nama Polo,Poli atau Puni,sebutan untuk Borneo.Majapahit menyebutnya Beruneng…beberapa abad lamanya Brunai mengikat hubungan dagang dengan China dan sejak pertengahan abad 15 ,Brunai melepaskan diri dari Majapahit.

Pertenghan abad ke 15,Islam masuk ke Brunai,Raja Awang Alak Betatar menjadi Sultan pertama kerajaan Brunai dengan gelar Sultan Muhammad Syah (1363-1402 ).ia kawin dengan puteri kerajaan Johor (Tumasik).
Sultan pertama Brunai ini mengembangkan agama Islam dengan pesat.kedatangan keturunan Syaidina Hasan dari Tha’ib,yaitu Syarif Ali keBrunai telah memperkokoh agama islam di Brunai.Syarif Ali kawin dengan anak sultan Muhammad Syah.Syarif Ali menjadi sultan Brunai yang ketiga (1425-1432).ia memerintah Brunai menurut syariat Islam dan mendirikan mesjid pertama di Brunai.

Hubungan dagang yang erat antara Cina dengan Brunai telah menjadikan salah seorang China menjadi Sultan Brunai yang kedua.yaitu Sultan Ahmad,sultan Ahmad adalah Putera dari Ong Sun Ping (Wong SanTing) yang kawin dengan puteri Ratna Dewi,menurut Tarsilah Brunai sultan Ahmad adalah Patih Berbai,saudara sultan Muhammad Syah.menurut Sultan Muhammad Syafiuddin II(Sultan Sambas) didalam bukunya “Silsilah Sambas” ,hal 3,Sultan Ahmad itu adalah Wang San Ting ,sebagai mana kutipan dibawah ini.

“Maka dapat pula kemala naga itu oleh Wang Kang,maka Wang San Ting pun merajuklah tida lagi mau pulang kenegeri China,lalu berbaliklah ke Brunai,lalu beristrikan puteri sultan Muhammad itu,maka digelar pula sultan Ahmad.maka kerajaan Brunai diberikan baginda kepada anaknda sultan Ahmad.”

Pada masa pemerintahan Awang Alak Betatar yang bergelar sultan Muhammad Syah.kaisar China memerintahkan dua orang menterinya Wang San Ting dan Wang Kung berangkat ke Borneo Utara untuk mengambil kemala naga sakti yang terdapat disalah satu gunung didaerah tersebut.
Telah lama mereka berusaha dan telah banyak korban rakyat China yang mati diamuk naga sakti,namun kemala naga belum juga berhasil didapatkan.hendak kembali dengan tangan hampa merupakan aib yang besar..,akhirnya Ong Sun Ping mendapat akal,sewaktu naga itu keluar mencari makan,kemala yang biasanya ditinggalkan diambil oleh Ong Sun Ping dengan cara mengganti kemala naga tersebut dengan peti kaca yang berisikan lilin menyala,menurut prasangka naga,kemala naga itu masih ditempat,jadi ia tak perlu segera kembali.
Sebagai peringatan atas banyaknya korban yang jatuh dan istrinya yang menjadi balu (janda) maka gunung tersebut terkenal dengan nama gunung Cina Balu yang akhirnya mengalami peruhan menjadi gunung Kinabalu.
Dalam pelayaran pulang ke China telah terjadi perselisihan ,menteri Wang Kung berkeras untuk memiliki kemala naga agar dapat ia persembahkan sendiri kepada Kaisar…Ong Sun Ping tidak ingin untuk melanjutkan perselisihan tersebut..Wang Kang beserta pengikutnya kembali ke China sementara Ong Sun Ping dan pengikutnya berubah arah dan mendarat di Brunai.kedatangan mereka disambut oleh Sultan Muhammad Syah dengan riang,Wang San Ting (Ong Sun Ping ) dalam waktu pendek telah dapat menyesuaikan dirinya,ia menganut agama islam dan berkawin dengan puteri tungal sultan yang bernama Puteri Ratna Dewi.kemudian ia dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sultan Ahmad sebagai Sultan Brunai yang kedua…


Sumber :
1.Pemerintah kerajaan Brunai Darussalam,”BRUNAI BERDAULAT”,Federal Publication 1984,hal 63,64.
2.Catatan Sultan Muhammad Syafi’uddin II “SILSILAH SAMBAS”.

Read more...

02 Februari, 2009

BRUNAI,MALAYSIA,SINGAPURA DAN SAMBAS ADALAH NEGERI NEGERI DIPULAU BORNEO

PURBA SEJARAH SAMBAS

Catatan catatan sejarah berikut ini adalah cermin dan gambaran bahwa negeri negeri Melayu diPulau Borneo mempunyai hubungan dan Silsilah yang tak terpisahkan (Berikut Adalah Kutipan dari buku “Sejarah kesultanan dan pemerintahan daerah Kabupaten Sambas” yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata PEMDA Kabupaten Sambas,tahun 2001).

Riwayat kerajaan dan para Sultan Sambas berdasarkan catatan tertulis dan benda peninggalan secara jelas dimulai pada awal berdirinya kesultanan Islam Sambas pada awal abad ke-17..Sumber tertulis utama tentang kesultanan Sambas,adalah tulisan Sultan Muhammad Syafiuddin II berjudul ‘’Silsilah Raja-Raja Sambas’’yang ditulis sendiri oleh Sultan Sambas ke-13 yaitu pada bulan Desember 1903.

Sumber tertulis utama
dari negara Brunei Darussalam adalah Kitab ’’ Silsilah Raja-Raja Brunei’’.Sumber sejarah kesultanan Sambas berkaitan dengan kerajaan Brunei telah diterbitkan dalam tiga buah buku oleh Pusat sejarah Brunei.Ketiga buku tersebut adalah:
1.’’Tarsilah Brunei,Sejarah Awal dan Perkembangan Islam’’(tahun 1990).
2. “Raja Tengah,Sultan Serawak Pertama dan Terakhir”(tahun 1995).
3.”Tarsilah Brunei,Zaman Kegemilangan dan Kemasyhuran”(tahun 1997).

Di dalam sejarah Raja-Raja Brunei maupun Silsilah Raja-Raja Sambas,riwayat kesultanan Sambas dijelaskan mulai masa Raja Tengah,Raja Serawak yang selama 40 tahun berada di Sukadana dan Sambas (1600-1641).Raden Sulaiman adalah putra Raja Tengah dari perkawinan Raja Tengah dengan Puteri Surya Kesuma,puteri Sultan Matan/Sukadana,Sultan Muhammad Syafiuddin.kemudian Raden Sulaiman adalah Sultan Sambas pertama: 1631-1668.

Namun sejarah Sambas sudah bermula jauh sebelum Raden Sulaiman berkuasa.Walaupun tidak didapatkan catatan tertulis tentang purba sejarah Sambas,dari catatan kerajaan Majapahit dan kronik-kronikKaisar Cina,disebutkan bahwa Sambas sudah ada sejajar dengan kerajaan-kerajaan di Kalimantan,Jawa,Sumatera,Malaka dan Brunei serta Kekaisaran Cina pada abad ke-13 dan ke-14.

Masa purba sejarah Sambas dan Kalimantan masih diliputi kabut ketidak pastian karena tidak banyak data dan informasi yang diperoleh.Namun daerah bagian barat Kalimantan telah banyak dikenal oleh para pelancong dan pedagang asing dari Cina,India dan Arab sejak abad ke-10.

Drs Sudarto dan Adisidharto dalam manuskrip bukunya tentang “Sejarah Kalimantan Barat’’,tahun1977,mencoba mengangkat riwayat berkaitan dengan purba sejarah Kerajaan Sambas.

“Daerah Sambas,Sukadana,Tanjungpura dan karimata dalam buku Ptolemaeos Dias “Geographia’’(abad ke -2) ditafsirkan oleh Van der Meulen bahwa :”Tanjung satyroi tidak mungkin lain daripada gugusan pulau-pulau Karimata yang berbatu itu,karena tak ada bagian yang patut di sebut sebagai tanjung di daerah yang pantainya berlumpur itu.

PANTAI UTARA SAMBAS"TANAH HITAM PALOH".

Dari catatan Ptolemaeos pada awal abad tahun masehi itu,telah di ketahui bahwa daerah pantai barat Kalimantan,(Sambas,Mempawah,Sukadana,Tanjungpura) sudah dikenal sebagai daerah berpenghuni.selanjutnya Van der Meulen menduga bahwa dalam Ptolemaeus,nama Javadwipa munkin sekali dipakai untuk menyebut bahagian lain dari Kalimantan.

Jika interpetasi mengenai Javadwipa itu tepat,maka Kota Argyre(=Kota Perak) seperti di sebut oleh Ptolemaeus,tentulah terletak dibagian ini, barangkali saja di sekitar Kumai atau “Kotawaringin’’.Atau mungkin saja daerah itu adalah Matan ,Landak atau Sambas karena terkenal sebagai daerah penghasil emas dan intan.Kalau Swarna Dwipa (pulau emas)diperkirakan sebagai pulau emas,mungkin juga Sambas sudah termasuk sebagai daerah penghasil emas.”


Kronik dinasti Sung(960-1279)adalah salah satu catatan tua tentang bagian barat Kalimantan.Kronik Cina menyebut”Puni’’sebagai borneo Barat “daerah Kalimantan Barat.’’disebutkan:”negeri ini terletak di lautan barat daya,jaraknya dari jawa 45hari,dari San Bot Sai (Palembang) 40hari dan dari Champa 30hari,jika angina baik..Atlas sejarah Muhammad Yamin menyebutkan pula daerah bagian barat Kalimantan dengan sebutan “Puni’’.

Daerah bagian barat Kalimantan itu tentulah termasuk pula daerah Sambas sebagai salah satu kerajaan tertua di Kalimantan..kronik dinasti ming (1360-1643) pun sama sama menyebut Negara Negara dibagian barat Kalimantan (Puni) yang mengirim duta besarnya ke istana kaisar Cina untuk menunjukan hormat dan takzimnya.

Didalam salah satu buku sejarah serawak yang ditulis oleh Sanib Said,yang membagi sejarah Serawak dalam tiga fase yaitu “Ancient Sarawk politio-culture area(ASPA); The old Sarawak (OS) dan The New Serawak (NS) ;Wilayah Ancient Serawak Politio-culture area adalah fase sejarah politik dan budaya Serawak lama atau Serawak Tua..Sanib Said Memasukan daerah mulai dari Sambas sampai Bintulu Sekarang.. Serawak Tua ini sekitar abad ke 13, sebelum kejayaan kerajaan Brunei.

Read more...

Pengikut

Download Ebook,Internet Mobile & Gadget

RANDOM POST

  © Blogger templates Modifikasi The Professional Gradient Template by Albert Kennedy 2010

Back to TOP