Tampilkan postingan dengan label SULTAN SAMBAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SULTAN SAMBAS. Tampilkan semua postingan

28 Februari, 2010

FACEBOOKER SAMBAS

Kabupaten Sambas yang berada disisi utara pantai Kalimantan,adalah termasuk kabupaten yang tertinggal dalam pembangunan,kalau dizaman Kerajaan Sambas (Kesultanan Sambas) daerah ini adalah tempat dan kerajaan strategis yang selalu di incar Bangsa penjajah,karena letak geografisnya dan kekayaan alam berupa emas yang berlimpah…Banyak pekerja pekerja dan penambang dari negeri China datang Ke Sambas,mendirikan kongsi kongsi(Perkumpulan) untuk menambang emas dengan perjanjian kerja dan membayar pajak kepada Kesultanan Sambas.

Sekarang Kesultanan Sambas hanya symbol yang memegang peranan dalam Tata cara dan adat istiadat kemasyarakatan dikabupaten Sambas,meski demikian keluarga Istana tetaplah dipandang terhormat dan dipandang tinggi oleh seluruh lapisan masyarakat kabupaten Sambas.

Dizaman kemajuan IT,dan menjamurnya pengguna Facebook diseluruh dunia,berapa banyak Facebooker yang berasal dari Sambas….?.....Tentu tak dapat dijawab,karena belum ada yang melakukan riset kearah tersebut,tapi dari maraknya dan semakain banyaknya Group di Facebook yang memakai tema Sambas jelaslah bahwa begitu banyak pengguna Faceebook yang berasal dari daerah Sambas..Bahkan lambang kerajaan Sambas yaitu Kuda laut banyak dijadikan logo oleh Facebooker Sambas sebagai logo Group yang mereka buat…Bahkan ada yang bekerja dinegeri tetangga Malaysia,namun tetap berinteraksi dan berhubungan dengan teman teman mereka yang ada di Sambas lewat Group Facebook yang mereka buat.

Kalau anda berasal dari Sambas dan tinggal dirantau,tak usah kuatir karena anda dapat terus berinteraksi dengan kawan kawan anda hanya dengan mencarinya di group Facebook yang memakai label Sambas…Silakan login di “www.facebook.com” dan anda dapat berchating ria dengan taman teman lama anda….


Read more...

11 Oktober, 2009

SULTAN MUHAMMAD MULIA IBRAHIM SYAFIUDIN 1931-1943. bag 3

Pada tahun1933 Sultan Muhammad Mulia Ibrahim membangun istana baru diatas lahan istana lama dan selesai dalam tahun 1935.Dihadapan istana dibangun pintu gerbang (Gapura) bertingkat,dua buah pendopo dipergunakan untuk tamu,pertunjukan kesenian dan lain-lain.
Sebelah kiri dan kanan dibangun dua buah pavilyun untuk tamu dari luar daerah serta untuk kantor pribadi Sultan,dan sebelah belakang pavilyun disediakan tempat untuk menyimpan barang –barang khazanah Sambas.


Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin beristerikan Raden Marhum Siti binti Pangeran Bendahara Sri Maharaja Muhammad Tayyib,dan Raden Iyah dari Jawa Barat.
Dengan isterinya Raden Siti binti Pangeran Sri Maharaja Muhammad Tayyib memperoleh anak :

1.Raden Berti bersuamikan Mas Kailani dari Mempawah.

2.Raden Maryam bersuamikan Daeng Subli Akib dari Kampung Bugis Sambas.

3.Raden Muhammad Taufik (Pangeran Ratu Natakesuma) beristerikan Raden Dare Latifah binti Pangeran Laksamana Raden Hasnan.

4.Raden Gunawan

5.Raden Anisah bersuamikan Wan Usman dari Singkawang,karena Wan Usman meninggal dunia,kemudian Raden Anisah kawin dengan Daeng Subli Akib.

6.Raden Fatimah.

7.Raden Asmara kawin dengan Bahtiar.

Dalam masa pemerintahan Jepang pada tahun 1943 Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin dan Pangeran Serimaharaja Muhammad Tayyib ditangkap dan dibunuh oleh tentara Jepang di Mandor karena dianggap memangkang dan tidak mau patuh pada kekuasaan Jepang.
Untuk melaksanakan tugas pemerintahan di Sambas,pemerintah tentara Jepang Pada tanggal 25 Maret 1945 sampai dengan tanggal 18 Oktober 1945 membentuk Majelis Kesultanan (Zitirijo Hiyogi Kai) yang terdiri dari :

a. Kenkarikan yang berkedudukan di Singkawang sebagai penasehat
b. Demang kota Sambas Raden Muhammad Siradj debagai ketua.
c. Raden Ismail dan Raden Hasnan sebagai anggota.

Setelah Jepang menyerah kalah pada sekutu tanpa syarat pada bula Agustus 1945 kemudian oleh Gubernur Jendral Belanda DR. H.J.Van Mook dengan perantaraan Sultan Hamid II,pada tanggal 20 Pebruari 1946 dibentuk dan dilantik sebuah Majlis Kesultanan Sambas yaitu :

- Raden Muchsin Panjianom Gelar Pangeran Tumenggung Jaya kesuma ,sebagai ketua.
- Raden Hasnan gelar Pangeran Laksamana sebagai anggota.
- Urai Nurdin gelar Pangeran Paku Negara sebagai anggota.
- Haji Muhammad Basyuni Imran (Maharaja Imam Sambas) sebagai penasehat.
- Setelah beberapa tahun kemudian karena Urai Nurdin diangkat menjadi asisten Demang ,ia digantikan oleh Raden Abubakar Panjianom gelar Pangeran Amar Diraja .

Semenjak Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin dibunuh Jepang,hingga tahun 1946 belum ditentukan pengganti Sultan Sambas.hal ini karena Pangeran Ratu Raden Muhammad Taufik masih kecil,baru duduk dibangku sekolah rendah diSambas.Sementara Pangeran Kesuma Indra (Raden Abubakar Ariadiningrat),Asisten Demang Sanggau Ledo,sebelum pendudukan Jepang sedang melaksanakan cuti di Jawa Barat.Sampai tahun 1948 tidak dapat kembali ke Sambas,dan ikut bertempur melawan Belanda di daerah Priangan.


Read more...

08 Oktober, 2009

SULTAN MUHAMMAD MULIA IBRAHIM SYAFIUDIN 1931-1943 .bag 2

Pada tanggal 1 Mei 1931 Belanda mengikat kontrak politik dengan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin,Penyelenggaraan pemerintahan Sambas harus menyesuaikan diri dengan ketentuan yang termaktub dalam Staatsblad Pemerintah Hindia Belanda yang disebut dengan Korte Verklaring atau Akte Van Vereband.kekuasaan Sultan menjadi terbatas,hanya merupakan daerah otonom yang berbentuk Lanschap.Kepada Sultan sebagai Het Zelfbestuur dikuasakan oleh pemerintah Hindia Belanda antara lain untuk melaksanakan hukum agama Islam dan hukum adat.


Sejak tahun 1936 dibentuk peradilan khusus untuk golongan pribumi di Sambas, yaitu :

1.Pengadilan Negeri yang sebelumnya disebut Landraad untuk golongan pribumi diganti namanya dengan Pengadilan Balai Kanon.

2.Pengadilan setempat yang sebelumnya disebut Magistraat untuk golongan pribumi diganti dengan Pengadilan Balai Raja.

3.Pengadilan adat diganti namanya dengan Pengadilan Balai Bidai.

Pengadilan Balai Kanon
Pengadilan Balai Kanon dikuasai oloeh Sultan Sambas sebagai hakim tunggal dibantu seorang Panitera dan sebagai penasehatnya seorang pejabat Pemerintah Belanda dan pemuka agama Islam (Maharaja Imam).Penuntut umumnya adalah Mantri Polisi dan hukuman yang dijatuhkan kepada tersangka berpedoman pada KUHP (Kitab Undang Undang Hukum Pidana) dan peraturan peraturan lainnya yang ancaman hukumannya diatas enam bulan.Keputusan Pengadilan Balai Kanon harus diperkuat oleh Pengadilan Negeri atau Landraad yang berkedudukan di Singkawang.

Pengadilan Bala Raja
Pengadilan Bala Raja sebagai ketua pengadilan ditunjuk kepala distrik (Demang) sebagai hakim tunggal. Paniteranya adalah juru tulis kepala distrik. Jaksa Penuntut Umum ditunjuk mantri polisi setempat dan hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa berpedoman kepada KUHP dan peraturan peraturan lainnya yang ancaman hukumannya dibawah enam bulan .Keputusan Pengadilan Balai Raja harus diperkuat oleh kepala pemerintahan setempat ( Controleur).

Pengadilan Balai Bidai
Pengadilan Balai Bidai (Pengadilan Adat) dilaksanakan oleh ketua adat ,kepala benua,kepala kampung sebagai ketua paengadilan Balai Bidai.Anggota dari pemuka kampung seperti Lebai dan Penghulu.Pelaksanaan hukuman perpedoman kepada hukum adat setempat berupa : denda,ganti rugi dan hukuman yang paling ringan adalah membayar Kasai Langgir atau membayar biaya Tepung Tawar.

Pengadilan agama dikesultanan Sambas
Pengadilan agama dikesultanan Sambas yang sudah berlaku turun temurun sebelum dicampuri oleh pemerintah Hindia Belanda melaksanakan hukumannya perpedoman kepada hukum Qisas menurut ajaran Islam,misalnya membunuh dihukum bunuh ,berzinah dikenakan hukum rejam.


Read more...

10 September, 2009

RADEN MUHAMMAD ARIADININGRAT

Sejarah kesultanan Sambas...
Raden Muhammad Ariadiningrat (Pangeran Paku Negara) Gelar Sultan Muhammad Ali Syafi’uddin II 1922-1926.
Berhubung Sultan Muhammad Syafi’uddin II sudah lanjut usia (85 tahun),maka pada tanggal 4 Desember 1922 bertepatan dengan 14 Robi’ul akhir 1341 H, Sultan meletakkan jabatannya,dan pada kesempatan yang sama diangkatlah Raden Muhammad Ariadiningrat gelar Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II dalam usia 51 tahun sebagai Sultan Sambas yang ke 14 menggantikan ayahandanya.


Sebelum dinobatkan menjadi Sultan,pendidikan dan pengalaman Raden Muhammad Ariadiningrat bin Sultan Muhammad Syafiuddin II (Raden Affifudin) bin Sultan Abu Bakar Tajudin II (Raden Ishak) bin Sultan Muhammad Ali Syafi’uddin I(Raden Pasu Pangeran Anom) sudah cukup banyak.

Setelah tamat dari sekolah partikulir (Wilde School) di Sambas,pada tanggal 8 Desember 1890 melanjutkan pelajarannya di Opleiding School Voor Indianche Ambtenaar (OSVIA),di Serang Jawa Barat.

Pada tanggal 12 Maret 1894 pulang ke Sambas dan pada tahun 1895 diangkat menjadi guru bantu pada sekolah partikulir di Sambas. Kemudian bekerja magang Pada kantor Pangeran Bandahara sri Maharaja ... Raden Muhammad Ariadiningrat memperdalam ilmu agama Islam berguru dengan Haji Muhammad Imran,Mufti Kesultanan Sambas,kemudian tangal 5 April 1950 diangkat menjadi anggota Pengadilan (Landraad) Sambas.

Pada tanggal 31 Desember 1903 Raden Muhammad Ariadiningrat diangkat sebagai Wakil Sultan di Singkawang,gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma Negara.
Ditahun 1908 beliau diangkat menjadi kolektor pajak dalam wilayah Kesultanan Sambas.
Pada tanggal 1 Januari 1917 diangkat sebagai Voorzitter (Ketua Mahkamah Agama Islam) Sambas.
Tanggal 31 Agustus 1921 Raden Muhammad Ariadiningrat gelar Pangeran Paku Negara menerima bintang 30 tahun telah melaksanakan tugas dalam wilayah Kesultanan Sambas.

Ketika dilantik menjadi Sultan Ssambas yang ke-14 dilaksanakan upacara adat kebesaran sesuai adat Penobatan Raja Raja(Sultan) sebelumnya.
Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II dalam melaksanakan tugasnya selalu bekerja keras untuk melanjutkan pekerjaan pekerjaan yang telah dirintis oleh ayahandanya Sultan Muhammad Syafiuddin II .
Pada tahun 1923 ia meminta kepada rakyatnya bergotong royong menggali terusan : Segerunding,Kota Bangun,sapu’ dan terusan Ketapang.Pada masa beliau memerintah Negeri Sambas semakin Maju,makmur,aman dan tenteram.Penghasilan Negeri Sambas melimpah ruah seperti Getah(karet),Kopra,Lada,Gambir,Sagu,Pinang dan hasil hutan seperti Damar dan Rotan.

Pada tanggal 9 Oktober 1926 bersamaan dengan 1 Robiul Akhir 1345 waktu Ashar,secara mendadak Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II telah wafat dalam usia 54 tahun diistana Pedalaman,setelah hampir setahun beliau sakit sakitan.Setengah jam sebelum wafat beliau masih sempat menandatangani surat surat yang berhubungan dengan tugasnya sebagai Sultan Sambas. Raden Muhammad Ariadiningrat gelar Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II ,Sultan Sambas yang ke-14,mempunyai istri Enci’ Maimunah binti Saunan (Pangeran Negeri Brunei yang menetap di Sambas) memperoleh seorang putera bernama Raden Abdul Muthallib (Raden Rapot).

Dengan istrinya Raden Zohra binti Raden Abdul Muthalib bin Raden Ishak gelar Sultan Abubakar Tajuddin II memperoleh beberapa orang putera dan puteri yaitu :

a. Raden Munziri Ariadiningrat beristerikan Raden Halijah binti Pangeran Laksamana Mohammad Saleh,kemudian isterinya yang kedua Raden Madinah Binti Raden Padmanagara (Raden Tokong)bin Raden Abdul Muthalib bin Raden Ishak gelar Sultan Abubakar Tajuddin II.

b. Raden Fatimah Ariadiningrat bersuamikan Raden Muchsin Panji Anom bin Raden Sulaiman Panji Anom (Pangeran Cakranegara) bin Raden Abdul Muthalib bin Raden Ishak (Sultan Abubakar Tajuddin II).

c. Raden Aisyah Aridiningrat bersuamikan Raden Adenan Panjianom bin Raden Sulaiman Panji Anom (Pangeran Cakranegara) bin Raden Abdul Muthalib bin Raden Ishak (Sultan Abubakar Tajuddin II).

d. Raden Laminah Ariadiningrat.

e. Raden Abubakar Ariadiningrat beristerikan Raden Sofia Suryadiningrat dari Purwakarta Jawa Barat,isteri yang kedua adalah Raden Rafiah bin Raden Muhammad Akbar.

f.Raden Izah Ariadiningrat bersuamikan Urai Usman Alinafiah bin Raden Padmanagara (Raden Tokong) bin Raden Abdul Muthalib bin Raden Ishak (Sultan Abubakar Tajuddin II).


Read more...

07 Agustus, 2009

KESULTANAN SAMBAS

RADEN AFIFUDDIN GELAR SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN II 1866-1922


Setelah 5 tahun Sultan Muda menjabat sebagai wakil Pangeran Bandahara,pada tanggal 06 Agustus 1866 Ia dinobatkan sebagai Sultan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin II.Sultan Sambas yang ke 13 inipun menandatangani kontrak panjang dengan pemerintah Hindia Belanda sebagai mana yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Sultan Abubakar Tajuddin II.

Penobatan Sultan Muhammad Syafiuddin II dilaksanakan dengan meriah.Kesultanan Sambas secara turun temurun telah memiliki tata cara penobatan seorang Sultan,seperti penobatan Sultan Muhammad Syafiuddin II.Pada tanggal 06 Agustus 1866 pukul 7.30 pagi diletuskan sebelas kali bunyi meriam dihadapan istana Pedalaman Lama sebagai penghormatan kepada Controuleur dan tamu Belanda serta tamu dari negeri tetangga serta tamu tamu lainnya.Datang dengan sebuah Bedar kebesaran berkepala putih khusus untuk menjemput Sultan yang akan dibawa kerumah Asisten Residen.

Pukul 08 Pagi diletuskan lagi 11 kali dentuman meriam ketika Sultan Muda dilantik dengan upacara kebesaran didampingi Controuleur,para Wazir dan Menteri,Kepala Distrik,Datuk Kaya,Kyai,Imam Khatib,.Dari istana menuju sebuah Bedar berkepala Naga Kuning diiringi oleh sebuah Bedar berkepala putih menuju rumah asisten Residen.Sampai dirumah Asisten Residen diletuskan 11 kali dentuman meriam menyambut rombongan Sultan.

Dalam penobatan itu Asisten Residen membacakan surat keputusan Pengangkatan Sultan Muda menjadi Sultan Sambas gelar Sultan Muhammad Syafiuddin II.Sultan Umar Kamaluddin menyerahkan jabatanya kepada Sultan Muhammad Syafiuddin II, Sultan Umar Kamaluddin kemudian diangkat menjadi Yang Dipertuan Umar Kamaluddin.Selesai upacara penobatan,diletuskan lagi 11 kali dentuman meriam ,yaitu pada saat rombongan Sultan meninggalkan rumah Asisten Residen kembali dengan 2 buah Bedar menuju istana Pedalaman.
Tiba diistana Pedalaman diletuskan lagi 11 kali dentuman meriam,dan pada saat itu Raden Khatijah diangkat menjadi permaisuri dengan gelar Ratu Anom Kesuma Ningrat.Dalam acara itu,Pangeran Tumenggung Jya kesuma (Raden Muhammad Tharhan)diangkat menjadi Pangeran Bandahara Sri Maharaja.Raden Mangku Ningrat diangkat menjadi Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma.

Setelah selesai upacara penobatan pukul 11.30 siang saultn berpesan kepada para menteri serta pegawai kesultanan:”Bahwa sesungguhnya pada hari ini kita menyampaikan banyak syukur kepada Allah S.W.T.yang telah menyempurnakan kebesaran Kesultanan Sambas,kita berjanji insya Allah akan menjalankan pemerintahan dengan sempurna bagi kepentingan dn kemakmuran rakyat yang ada ninegeri Sambas ini”.

Kemudia Datuk Kyai Baraja Wangsa erdiri disisi Sultan memegang sebuah tombakemas kebesaran lalu menyembah:”Seri Paduka Yang Maha Mulia Tuanku Sultan,Harap Diampuni Beribu Ribu Ampun Bahwa Patik Beserta Sekalian Yang Hadir Ini Menyatakan,Duli Tuanku Yang Maha Mulia Yang Bersemayam Diatas Tahta Kesultanan Sambas Ini Daerah Wilayahnya .Bahwa Bermula Adalah Sultan Sebagai Bapak Dari Adat Istiadat Dan Qanun Negeri Yang Mengemudikan Pemerintahan.Sedangkan Saudara Saudara Bagi Sul;Tan Yaitu Para Menteri Besar Dan Kecil Dan Anak Bagi Raja Adalah Sekalian Rakyatnya.Bagi Raja Tiadalah Bapak ,Ibu Dan Anak,Anakdiharibaan Diletakkan,Anak Kera Dihutan Disusui.Apabila Semuannya Berlainan Dari Pada Yang Tertsebut Maka Akan Binasalah Neger”.Kemudian sekalian yang hadir meneriakkan “Kabul,kabul,kabul”.Persembahan Kyai Braja Wangsa itu adalah sebagaitekad pembantu Sultan dan rakyat Sambas.

Pada malam harinya diadakan pula pesta dihalaman depan istana,dipertunjukkan bermacam hiburan kesenian antaralain Joged Melayu Ma’yung.Mendu (Abdulmuluk) dan lain lain.

Pada awal Sultan menjabat pekerjaan,beliau yang sudah banyak belajar diBatavia dan Ciamis menjadi gusar melihat keadaan negeri Sambas.Orang orang yang diperintahnya pada umumnya masih banyak buta huruf,keras kepala suka salin membunuh.Menterinya sebagian besar masih buta huruf,pendapat mereka selalu berlawanan dengan pendapat Sultan yang telah banyak mengecap pendidikan itu.Kekuatan dan persenjataan pasukan Sambas kala itu tidak ada sama sekali,hanya mengandalkan bantuan Belanda.namun hal hal yang demikian tidak membuat sultn putus asa dan berpangku tangan,melainkan mendorognya untuk bekerja keras menyusun dan mengatur negeri dan rakyatnya,serta menjalan kan pemerintahan negerinnya sebaik baiknya.

Selama Sultan Muhammad Syafiuddin II memerintah negeri Sambas hingga meletakkan jabatan dan menjadi Yang Dipertuan,tidak pernah beliau berhenti berupaya dan berikhtiar memajukan negeri dan rakyat Sambas baik perkara dunia maupun akhirat.Sejak kecil Sultan sudah di didik oleh ibunya dengan semangat Islam dan hidup dalam suasana Islam sampai pada hari wafatnya.

Pada tahun 1873 ( 7 tahun setelah Raden Afifuddin menjadi Sultan )Ayahandannya kembali keSambas dari Cianjur ...Yang Dipertuan Abubakar Tajuddin beserta isterinya kecuali Raden Ayu yang telah Wafat di Cianjur dan dimakamkan dikomplek Raja Raja dikampun Pasarean Cianjur ...Ketika Yang Dipertuan Abubakar Tajuddin berada di Sambas ,didirikannya sebuah istana kecil dan diberi nama “Pisang Sesikat”,letaknya disebelah selatan disamping kanan masuk istana.

Beberapa tahun kemudian Yang Dipertuan Umar Kamaluddin Wafat,disebut “Marhum Bintang” atau “Seberang”.Selang setahun kemudian wafat pula Yang dipertuan Abubakar Tajuddin ,disebut juga “Marhum Cianjur”.

Sultan Muhammad Syafiuddin II melihat istana Pedalaman yang lama tidak layak lagi dihuni,didirikannyalah sebuah istana baru diatas tanah bekas istana lama...Istana baru ini terdiri dari bebrapa balai yaitu : Balai Kencana (Paseban Agung).Balai Sunting dan Balai Ranjang.Dibelakang istana didirikannya sebuah bangunan yang diberi nama Panca Puanda sebagai tempat pelaminan pengantin disandingkan.kemudian dibangun pula sebuah Mesjid Jami’ (yang berarti mesjid agung) dan beberapa buah terusan(sungai) yaitu Terusan Kartiasa,terusan Sebangkau,terusan Sentalli,terusan Semangau,terusan Sagu dan parit kampung Sabu’.


Read more...

31 Juli, 2009

KESULTANAN SAMBAS

RADEN TOKO’ GELAR SULTAN UMAR KAMALUDIN 1855-1866



Raden Toko’ bin Raden Semar bin Raden Jama, gelar Sultan Umar Kamaludin,Sultan Sambas yang kedua belas menggantikan Raden Ishak gelar sultan Abubakar Tajudin II.Setelah mengundurkan diri dari tahta kerajaan Sambas,diangkat menjadi yang dipertuan menetap di Cianjur bersama isterinya Raden Ayu.

Raden Toko’ mempunyai 4 orang isteri yaitu : Raden Kencana,Urai Tikus,Encik Umi,Hajah Zakiah...Raden Kencana adalah Puteri Raden Pasu Pangeran Anom gelar Sultan Muhammad Ali Syafi’uddin I (Sultan Sambas yang ke 8).Dengan Raden Kencana memperoleh beerrapa orang putri diantaranya Raden Siti Halijah gelar Ratu Dabek.

Dalam masa pemerintahanya,dua orang Pangeran dari keluarga Pedalaman yaitu,Raden Hamid gelar Pangeran Laksamana bin Raden Tajud dan Pangeran Puspa Indra bin Pangeran Laksamana Kubu diasingkan ke Bengkulu dan Ternate.

Ketika Sultan Muda dan rombongannya tiba Di Sambas(dari Batavia),kesultanan Sambas tengah berkabung karena wafatnya,Raden Muhammad Semon gelar Pangeran Bandahara Sri Maharaja.Atas permufakatan asisten Raden dengan dengan Sultan Umar Kamaludin,Sultan Muda diangkat untuk menjadi wakil Pangeran Bandahara Sri Maharaja .Raden Menteri gelar Raden Mangku Ningrat diberi pekerjaan magang dikantor wakil Bandahara.Dalam perjalanan tugasnya Sultan Muda selalu berlaku arif,bijaksana dan sederhana tidak memegahkan diri.iapun menambah pengetahuannya tantang ilmu ukur pada G.L Van Doorsum,Luitnant I Commandant militer di Sambas.

Atas persetujuan Sultan Umar Kamaludin dengan PangeranTumenggung Jaya Kusuma (Raden Ruai) dan Ratu Sabar,dikawinkanlah Siti Halijah binti Raden Toko’ dengan Sultan Muda ( Raden Affifudin bin Raden Ishak ).Perkawinan itu tidak diberitahukan terlebih dahulu kepada yang Dipertuan Abu Bakar Tajudin yang masih berada di Cianjur. Perkawinan ini telah meredakan perseteruan antar keluarga di Kesultanan Sambas, sejak itu habislah segala dendam, punahlah segala silang sengketa.

Pada perayaan perkawinan itu Sultan Umar Kamaludin mendapat anugerah dari Pemerintah Hindia Belanda “Medali Emas Besar” ( Groot Golden Medaille ) sebagai tanda setia, berbakti dan berjasa selama menjadi Sultan Sambas. Medali berantai emas yang sambung-menyambung sebanyak 24 keping, berat 6 tahil dan 2 mas.

Pada tanggal 8 Agustus 1866 bertepatan dengan 24 Rabiul Awal 1283, Sultan Umar Kamaludin digantikan oleh Raden Affifudin gelar Sultan Muhammad Syafiuddin II. Sultan Kamaluddin pun oleh Pemerintah Hindia Belanda diikat dengan suatu perjanjian ( kontrak ) pada tanggal 23 September 1854, ditanda tangani oleh Sekretaris Residen Borneo Barat, A Mint.



Read more...

29 Juli, 2009

RIWAYAT KESULTANAN SAMBAS

RADEN SEMAR GELAR SULTAN UMAR AKAMUDDIN III 1830-1846


Raden Semar Bin Raden Jama’ dengan isterinya bernama Haji Bonda mempunyai putera bernama Raden Toko’.Dengan isterinya Enci’ Baso’ mendapatkan putera Raden Tajud (Raden Coleng) dan dengan isterinya Enci’ Mahwa memperoleh putera Raden Aria.
Raden Semar ,Sultan yang ke 10 dari kesultanan Sambas adalah seorang raja yang rendah hati,dekat dengan rakyatnya,ksatria dan mempunyai pengetahuan yang luas dari pengalaman yang didapatnya diluar negeri Sambas.

PEMERINTAHAN SULTAN UMAR AKAMUDDIN III 1830-1846


Pada masa Raden Semar muncul perselisihan keluarga istana antara Pangeran Jaya Kesuma Negara dengan Pangeran Ratu Nata Kesuma (Putera Mahkota) mengenai upeti dari kongsi China didaerah Lara,Lumar dan Bengkayang. Pangeran Jaya Kesuma Negara maupun Pangeran Ratu Nata Kesuma keduanya adalah keponakan dari Sultan.Akar perselisihan tersebut adalah karena keputusan Sultan memberhentikan pemberian upeti dari Kongsi Cina dari daerah Lara,Lumar dan Bengkayang kepada Pangeran Jaya Kesuma Negara dan dialihkan kepada Pangeran Ratu Nata Kesuma.Keputusan Sultan ternyata tidak diindahkan ole Kongsi Cina yang berada didaerah tersebut serta diikuti oleh kongsi yang didaerah Seminis dan Pemangkat,karena mereka mendapat ancaman dari Pangeran Jaya Kesuma Negara.
Pangeran Jaya Kesuma Negara adalah seorang bangsawan yang terkemuka,mempunyai pengaruh dalam keluarga istana dan sebagai seorang Panglima pengganti almarhum Pangeran Anom.Perselisihan tersebut sangat menyusahkan Sultan,karena menurut peribahasa”dicubit paha kanan terasa sakitnya pada paha kiri,atau bak memakan buah Simalakama (dimakan mati ayah,tidak dimakan mati ibu).Beberapa kali diusahakan oleh Sultan hendak memadamkanperselisihan itu dengan jalan damai,ternyata siai sia saja dan tidak memuaskan kedua belah pihak.Putusan terakhir yang dilakukan Sultan adalah menyingkirkan untuk sementara Pangeran Jaya Kesuma Negara (menantu Sultan) ke Betawi.Putusanya ini semata mata untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam negeri Sambas,yang disetujui pula oleh Residen Sambas.Keputusan yang dijatuhkannya itu diterima dengan sakit hati oleh Pangeran Jaya Kesuma Negara ,namun sebagai seorang Panglima Ia tidak menentang keputusan itu,karena seorang Panglima telah disumpah setia untuk patuh dan taat akan segala amanat Sultan.

PANGERAN JAYA KESUMA NEGARA KE BETAWI


Pada mlaam hari lepas sembahyang Isya dalam bulan Mei tahun 1833 berangkatlah Pangeran Jaya Kesuma Negara dengan sebuah kapal perang Belanda “Zeemeew” menuju Batavia.Ketika kapal yang membawanya tiba dipelabuhan Betawi,sebelum melangkahkan kakinya naik kedermaga,terlebih dahulu ia meminta supaya pinggir kapal tempat Ia akan terjun kedermaga barang barangnya dipindahkan kepinggir kapal sebelahnya,Maksudnya apabila nanti Ia menginjakkan kaki kepinggir kapal supaya kapal tidak miring.Permintaan Pangeran Jaya Kesuma Negara itu tidak ditanggapi oleh anak buah kapal,karena menurut mereka ,mana mungkin kapal yang besar akan miring Cuma lantaran disebelahnya berdiri seseorang (berapa sih ukuran berat tubuh seorang manusia).Namun apa yang terjadi benar benar membuat semua orang yang ada disitu terkeju,saat Pangeran Jaya Kesuma Negara hendak turun dari kapal dan melangkah kedermaga,kapal tersebut benar benar miring.Melihat keadaan kapal berat sebelah dengan tangkas dan gesit Pangeran Jaya Kesuma Negara melompat kelantai dermaga.Orang orang yang melihat kejadian tersebut menjadi bingung dan geleng geleng kepala sekaligus takjub kagum.Karena kejadian tersebut nama Pangeran Jaya Kesuma Negara di Batavia amat terkenal,orang orang selalu mengagumi kesaktian dan keberanianya,sehingga penduduk setempat begitu hormat kepadanya.

Setelah beberapa lama Pangeran Jaya Kesuma Negara menetap di Batavia,pada suatu hari rumahnya didatangi oleh seorang juru sita serta beberapa orang bumi putera.Juru sita itu akan menyita barang barang perabotan rumah tangganya karena bebrapa kali ditagih belum bayar.Tanpa banyak bicara Pangeran Jaya Kesuma Negara menampar dan menumbuk juru sita itu dan berkata :”Pergilah kamu menagih hutang kepada Sultan Umar Akamuddin dinegeri Sambas”.Sejak itu hutang itu tidak pernah lagi ditagih oleh yang berwajib demikian juga mengenai pemukulan itu tidak pernah dipersidangkan.

Pada akhit tahun 1844 muncul lagi suatu peristiwa yang menyedihkan terhadap diri Raden Musa gelarPangeran Kesuma Indra,adik Pangeran Jaya Kesuma Negara.Ia diasingkan oleh Sultan Umar Akamuddin ke pulau Banda Naire,karena dipersalahkan menghasut Kongsi kongsi Cina di Lara,Lumar dan Bengkayang berbuat khianat terhadap Sultan.

Pada tahun 1874 setelah beberapa lama menderita sakit Raden Muhammad Ali gelarPangeran Jaya Kesuma Negara wafat dan dikebumikan diKampung Angke,Batavia.Dalam pemerintahanya Sultan Umar Akamuddin III mengangkat Raden Ishak(Kelukur) sebagai Sultan Muda.Saudaranya yang bernama Raden Ruai gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma dan dua orang puteranya Raden Toko’ dan Raden Tajud diangkat sebagai Pangeran Ratu Mangku Negara dan Pangeran Bendahara Sri Maharaja.Tanggal 22 Desember 1846 bertepatan pada hari Ahad 1 Muharram 1263 Hijriyah,Sultan Umar Akamuddin III wafat dan kemudian disebut “Marhum Tengah”.


Read more...

19 Juli, 2009

RADEN SAMBA’ GELAR SULTAN USMAN JALALUDDIN 1828-1830

Pada waktu Pangeran Anom wafat,puteranya Raden Ishak gelar Pangeran Ratu Natakesuma baru berumur 6 tahun,hasil musywarah kaum kerabat istana sepakat agar Raden Samba’ bin Raden Jamak bin RadenBungsu binRaden Melia diangkat sebagai Sultan Sambas yang ke 9.
Untuk mendampingi Sultan yang masih muda dibentuk suatu komisi yang bernama majelis Wali(Voogdy Raad)pada tanggal 29 November 1828.
Pemerintah Hindia Belanda mengesahkan berupa besluit Gubernur Jendral tanggal 8 Mei 1829.


Majelis wali tersebut terdiri dari asisten Residen Belanda diSambas dan juga sebagai penasehat Sultan Usman Kamaluddin sebagai ketua,Raden Semar gelar Pangeran Temenggung Jaya Kesuma dan Raden Tajud gelar Pangeran Kesuma Dilaga sebagai anggota.
Menunggu Raden Ishak Gelar Pangeran Ratu Nata Kesuma berumur 20 tahun,maka pemangku Sultan Sambas adalah Raden Samba’.

Raden Samba’ gelar Sultan Usman Kamaluddin kawin dengan Ratu Sultan memperoleh dua orang putera bernama Raden Muhammad Ali gelar Pangeran Jaya Kesuma Negara,atau Pangeran Kesuma Indra,Pangeran Jaya Kesuma Beristerikan puteri Raden Semar gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma bernama Raden Mariam.
Perkawinan Raden Muhammad Ali gelar Pangeran Jaya Kesuma tidak memperoleh zuriat,maka diambilnya Raden Aminah binti Raden Atung (Sultan Muda) sebagai anak angkatnya.
Pangeran Jaya kesuma adalah seorang bangsawan bersemangat ksatria,cinta akan kebenaran dan keadilan,sehingga kaum keluarga Sultan merasa segan dan hormat terhadapnya.
Pangeran Jaya Kesuma berani bertanggung jawab atau menolak pertanggungjawaban yang tidak cocok dengan keyakinannya sendiri.ia berani menempuh perjuangan dan menentang tradisi dan berani mengemukakan paham yang diyakininya benar.

Tahun 1830 Sultan Usman Kamaluddin meletakkan jabatanya dan diberi gelar yang dipertuan.Pada tahun yang sama (1830) diangkat saudaranya Raden Semar gelar Pangeran Temenggung Jaya kesuma dengan gelar Sultan Umar Akamuddin III sebagai Sultan Sambas yang ke 10.

Sultan Usman Kamaluddin wafat pada hari Kamis 7 Ramadhan 1247 H bertepatan dengan tanggal 9 Pebruari 1832,setelah wafat disebut Marhum Usman.


Read more...

04 Juli, 2009

RADEN JAMAK GELAR SULTAN UMAR AKAMUDDIN II 1760 – 1793.

Raden Jama’ ( Jamak ) dilahirkan pada hari Rabu 3 Rajab 1145 bertepatan pada tanggal 12 Januari 1731. Sultan yang ke-5 dari kerajaan Sambas, menggantikan Sultan AbuBakar Kamaluddin . Sultan Umar Akamuddin II mempunyai banyak isteri. Permaisurinya yang mendapat gelaran yaitu :
1. Ratu Sultan.
2. Mas Sultan binti Pangeran Mangku bin Pangeran Tamba’ Raja asal keturunan raja-raja Negeri Landak.
3. Mas Ayu.
Dengan Permaisurinya yang pertama ( Ratu Sultan ) ia memperoleh seorang anak laki-laki bernama Raden Achmad. Dengan Permaisuri yang Kedua( Mas Sultan ) memperoleh dua anak laki-laki masing-masing bernama Raden Mantri dan Raden Samba’. Dengan Permaisuri yang ketiga ( Mas Ayu ) memperoleh dua anak laki-laki masing-masing bernama Raden Pasu dan Raden Semar. Dari kelima anaknya tersebut lima orang menjadi Sultan di kesultana Sambas.


Menurut silsilah yang disyahkan,bahwa zuriat keturnan Sultan Umar Akamuddin II telah beranak pinak,berkembang biak,turun temurun di kesultnan Sambas.
Pada waktu menjadi Sultan Sambas,pertama tama dilantiknya Anaknya bernama Raden Achmad dengan gelar Sultan Muda Ahmad Tajudin untuk memegang pemerintahan didinegeri Sambas,Sultan Muda Achmad Tajudin adalah Sultan ke-6 akan tetapi malang benar bagi Sultan muda ini,karena belum begitu lama memerintah ia telah wafat.

Syair “PERANG MONTRADO” menjelaskan,bahwa kedatangan orang orang China di Sambas secara besar besaran pada masa pemerintahan Sultan Umar Akamuddin II sejak tahun 1772..
Didalam buku sejarah Indonesia terbitan Karunika,Jakarta,Universitas terbuka halaman 129 tahun 1986 menjelaskan,bahwa Sambas telah dibuka menjadi daerah perkumpulan orang orang China pada abad ke 18. Emas telah banyak dijumpai didaerah perbukitan sebekah timur dan tenggara Sambas.
Sultan Sambas mendatangkan pekerja tambang orang orang China.mereka mengadakan kontrak membuka tambang emas dengn Sultan Sambas…
Dalam masa 20 tahun jumlah orang orang China Disambas telah menjadi ribuan orang…untuk mengawasi kongsi kongsi China ini Sultan Sambas mengangkat orang orang Dayak.

Pada masa Sultan Umar Akammuddin II memerintah timbul dua kali kejadian genting yaitu :

a.Pada tahun 1770 kongsi China dari daerah daerah lara,Lumar dan Montrado melakukan perlawanan terhadap Kesultanan Sambas.
b.Pada tahun 1778 terjadi sengketa tapal batas antara kesultanan Sambas dengan kerajaan Mempawah.

Kedua sengketa tersebut dapat diselesaikan dengan musyawarah mufakat oleh masing masing pihak.Kejadian yang sangat tragis dialami oleh sultan Sambas adalah terbunuhnya Imam Ya’kub,imam kerajaan Sambas yang dalam pelayaran pulang dari pulau Jawa membawwa Jamang emas...Ia terdampar diperairan Banjarmasin,lalu dirampok dan dibunuh oleh bajak laut (baca juga kisah petualangan Pangeran Anom memburu bajak laut Banjarmasin untuk membalas dendam).

Kelima putera Sultan Jama’ yang silih berganti menjadi Sultan atau wakil Sultan Sambas adalah sebagai berikut :
1.Raden Achmad (Raden Gayung) gelar Sultan Muda Ahmad Tajudin,Sultan yang ke-6.
2.Raden Menteri gelar Sultan Abubakar Tajudin I,.Sultan ke-7.
3.Raden Pasu,Pangeran Anom gelar Sultam Muhammad Ali Syafi’uddin I,Sultan ke-8.
4.Raden Samba’ wakil Sultan dengan gelar Sultan Usman Kamaluddin,Sultan ke-9.
5.Raden Semar wakil Sultan dengan gelar Sultan Umar Akamuddin III,Sultan ke-10.

Menurut silsilah resmi dikesultanan Sambas,bahwa zuriat dari pancaran Sultan yang ke-5 telah diakui penuh dan disyahkan sebagai turunan yang lurus mempusakai kesultanan Sambas dengan gelar sultan.


Read more...

12 Juni, 2009

RADEN GAYUNG GELAR SULTAN MUDA ACHMAD TAJUDDIN 1786-1793

RADEN GAYUNG GELAR SULTAN MUDA ACHMAD TAJUDDIN 1786-1793.

Raden Achmad dilahirkan pada hari senin 1 Sya’ban 1165 H bertepatan dengan tanggal 14 Juni 1752, beristerikan Syarifah Aminah binti Syarif Muhammad Alaydrus. Ia diangkat oleh ayahandanya dengan gelar Sultan muda Achmad tajuddin untuk mengendalikan pemerintahan Kesultanan Sambas. Akan tapi malang benar sultan yang masih muda ini, karena baru enam bulan saja sejak dinobatkan ia sakit keras, lalu meninggal dunia pada tahun 1793 dan di sebut Marhum Gayong.

Saudaranya bernama Raden Menteri di lahirkan pada hari Jum’at 10 Rajab 1169 H bertepatan dengan tanggal 11 April 1756, di kenal juga dengan nama Raden Janggut gelar Sultan Abu Baker Tajuddin I. Raden Pasu ( Pangeran Anom ) gelar Sultan Muhammad Ali SyafiuddinI, dilahirkan pada hari Sabtu 3 Muharram 1181 H bertepatan dengan tanggal 16 Februari 1767. Raden Samba’ gelar Sultan Usman Kamaluddin dilahirkan pada hari Kamis 2 Zulkaedah 1184 H bertepatan dengan tanggal 16 Februari 1771. Raden Semar gelar Sultan Umar Akamuddin III. Sultan Umar Akamuddin II telah turun dari tahta kesultanan dan menyerahkannya kepada puteranya Raden Gayong yang terkenal dengan nama Sultan Achmad Tajuddin. Tetapi tidak lama memerintah ia wafat pada hari Ahad, 15 Ramadhan 1207 H bertepatan dengan 23 April 1793. Oleh karena tidak mempunyai keturunan, maka tahta Kerajaan Sambas digantikan oleh adiknya Raden Menteri ( raden Janggut ) gelar Sultan Abu Bakar Tajuddin.

Read more...

Pengikut

Download Ebook,Internet Mobile & Gadget

RANDOM POST

  © Blogger templates Modifikasi The Professional Gradient Template by Albert Kennedy 2010

Back to TOP